Ulasan Film: ‘The Nutcracker and the Four Realms’

Film adaptasi terbaru dari Disney yang berjudul The Nutcracker and the Four Realms sejatinya bukanlah cerita yang asing. 

Kisah yang diangkat dari cerita karangan E.T.A Hoffman berjudul The Nutcracker and the Mouse King ini sebelumnya pernah disuguhkan dalam bentuk film animasi Barbie in the Nutcracker (2001).

Kisah ini pun sempat diadaptasi menjadi pertunjukan balet klasik yang cukup populer seperti halnya Swan Lake. Tak heran bila kemudian tarian balet memiliki bagian dari film versi arahan sutradara Lasse Hallstrom dan Joe Johnston ini.

Secara garis besar, film ini tipikal dongeng yang diadaptasi Disney ke dalam versi live-action. Konsepnya, tak jauh berbeda dengan film-film seperti Alice in Wonderland, The Chronicles of Narnia dan Return to Oz.

Kisahnya berpusat pada seorang gadis yang merasa tak lagi cocok dengan lingkungannya, ia pergi mencari jati diri dan kenyamanannya sendiri.

Dalam The Nutcracker and the Four Realms, ceritanya berfokus pada Clara, gadis muda berusia 14 tahun yang merasa sedih akan kepergian sang ibu. 

Dia memiliki ketertarikan pada ilmu sains dan kemudian terbawa arus ke dunia paralel aneh nan misterius untuk mencari kunci yang akan membuka hadiah dari mendiang ibunya, Marie. 

Di dunia tersebut, Clara bertemu dengan seorang tentara Nutcracker bernama Phillip dan para penguasa dari tiga dunia: Land of Snowflakes, Land of Flowers, dan Land of Sweets. Di sana, ia pun disambut hangat, terutama oleh Sugar Plum Fairy yang pernah menjadi sahabat dekat dengan ibunya.

Di balik keajaiban itu, ada dunia lain yang terlupakan dan dijaga oleh para tentara tikus dan disebut sebagai dunia keempat. 

Clara dan Phillip harus memberanikan diri mereka untuk pergi ke dunia yang dikuasai oleh Mother Ginger, seorang pemimpin yang tirani, demi menyelamatkan keseimbangan keempat dunia dan mengambil kunci miliknya dari seekor tikus.

Clara, gadis 14 taun yang merasa sedih akan kepergian sang ibu.
Clara, gadis 14 taun yang merasa sedih akan kepergian sang ibu. (Dok. Walt Disney Studios via Youtube.com)

Untuk bujet yang tak main-main, Disney mengeluarkan sekitar US$120-130 juta atau sekitar Rp2 triliun, visual yang disuguhkan dari film ini memang sangat apik. Detail seperti hutan bersalju, kostum, CGI, serta istananya cukup memanjakan mata.

Hanya saja, cerita yang disuguhkan terbilang sederhana karena tak banyak hal-hal baru yang dieksplorasi. Meski terdapat sebuah plot ‘twist’ di tengah-tengah cerita, tapi alur dari The Nutcracker and the Four Realms cukup mudah ditebak.

Secara umum, film ini memang tampaknya tepat untuk tontonan anak-anak. Dari sosok Clara yang diperankan oleh bintang muda Mackenzie Foy terdapat sejumlah pesan moral yang memang cukup baik untuk menjadi tauladan.

Di sisi lain, pesan soal betapa pentingnya keluarga pun digambarkan cukup jelas dalam film ini. Namun, tak begitu banyak adegan berkesan yang kemudian melekat dalam benak.

Salah satu yang menarik yakni kala pertunjukan balet dari Misty Copeland dan Sergei Polunin menjadi bagian cerita. Sayangnya itu tak mendapat porsi yang cukup banyak.

Secara keseluruhan, film ini cukup layak menjadi tontonan bersama keluarga.

Selain Mackenzie Foy, film ini juga menyuguhkan aksi dari bintang kenamaan seperti Keira Knightley sebagai Sugar Plum Fairy, kemudian Helen Mirren sebagai Mother Ginger, Morgan Freeman sebagai ayah baptis Drosselmeyer. 

Euginio Derbez dan Richard E. Grant sebagai Hawthrone dan Shiver, penguasa Land of Flowers dan Land of Snowflakes, kemudian Jayden Fowora-Knight sebagai Phillip Hoffman, tentara Nutcracker.

 

 

 

Sumber: CNNIndonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *