Twitter Bekukan 1,2 Juta Akun yang Terafiliasi dengan Terorisme dan Propaganda

JAKARTA – Menkopolhukam RI Wiranto dan Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton menggarisbawahi pentingnya penanggulangan terorisme tak hanya di dunia nyata tetapi juga di dunia maya. Dutton menyebut bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Twitter melaporkan pihaknya sudah membekukan sekitar 1,2 juta akun yang terafiliasi dengan terorisme dan propaganda.

“Para teroris telah menggunakan banyak sekali akun. Sebanyak 1,2 juta akun Twitter yang sudah dibekukan selama beberapa tahun belakangan karena diduga berhubungan dengan organisasi teroris,” ujar Dutton dalam konferensi pers ‘Sub-Regional Meeting on Countering Terrorism’ yang digelar di Hotel Fairmont, di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (6/11).

Pertemuan yang dihadiri perwakilan dari sembilan negara peserta ini sepakat bahwa perusahaan sosial media punya tanggung jawab dengan pesan-pesan yang beredar di sosmed. Sebagai negara demokrasi, mereka menyambut penggunaan sosial media untuk masyarakat tetapi harus dibarengi dengan obligasi khusus berkenaan dengan hukum untuk terorisme dan kejahatan.

“Terutama untuk pesan-pesan yang terenkripsi yang layanannya bisa saja digunakan untuk perencanaan terorisme atau tindakan kriminal serius lainnya,” imbuhnya.

Dia mengakui bahwa di Australia upaya penanggulangan penyebaran pesan ini sulit dilakukan. Namun dalam pertemuan ini, negara peserta sepakat untuk bekerjasama dengan perusahaan swasta atau perusahaan media sosial untuk meredam pengaruh dan penyebaran konten radikal dan terorisme.

“Sudah ada kesepakatan/statement bersama bahwa working group akan mengembangkan apa yang bisa kita lakukan secara efektif, aksi bersama untuk menanggulangi bagaimana penggunaan medsos untuk kejahatan bisa kita redam,” kata Wiranto.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa setiap negara memang memiliki regulasi yang berbeda dalam pengamanan terorisme di media sosial. China misalnya, memilih memblokir perusahaan internet yang dianggapnya berbahaya, sementara di Indonesia regulasi tak sekeras itu.

Sementara itu, Twitter disebut Wiranto telah menawarkan diri untuk membantu pemerintah tak hanya untuk menangkal aksi terorisme tetapi juga hate speech dan hoax.

Selain Twitter, Wiranto mengatakan bahwa working group yang dibentuk dari pertemuan ini akan bekerjasama juga dengan Facebook dan perusahaan internet lainnya. Kerjasama dalam working group itu dianggap penting karena teroris tak mengenal batas negara.

“Working grup itu outputnya tadi akan membangun satu kehidupan medsos yang memberantas kejahatan,” tutup Wiranto.

 

 

Sumber: CNNIndonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *