Trotoar di Jakarta Akan Dipernyaman untuk Mendukung MRT

JAKARTA – Keberadaan trotoar dalam menunjang operasional transportasi publik tak dapat dipandang sebelah mata. Trotoar merupakan fasilitas pendukung bagi pengguna transportasi publik.

Sehingga trotoar yang nyaman, bersih, juga rapi pasti sangat didambakan oleh para pedestrian, khususnya pengguna transportasi umum. Di Jakarta, tak lama lagi Mass Rapid Transit (MRT) akan segera beroperasi setelah sekitar 30 tahun dinantikan. Munculnya MRT Jakarta tak hanya sekedar melahirkan sebuah moda transportasi baru, tetapi juga sebuah budaya baru dalam bertransportasi.

Kenyamanan trotoar menjadi pendukung utama supaya masyarakat mau menggunakan MRT, apalagi di tengah persaingan transportasi publik dengan transportasi berbasis aplikasi. Oleh sebab itu, PT MRT Jakarta mendukung program Pemprov DKI dalam melakukan peremajaan trotoar di sekitar stasiun MRT.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, untuk mengidentifikasi sebuah kota dikatakan moderen atau tidak dapat ditinjau dari kualitas transportasi umumnya. Jika kualitasnya sudah baik, maka transportasi umum bisa menjadi pilihan utama masyarakat.

Karena hal itu, keberadaan MRT tidak hanya memenuhi dari segi infrastruktur, namun sekaligus memastikan adanya integrasi yang baik antarmoda transportasi di Jakarta. Apalagi beberapa waktu lalu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah meresmikan pembangunan kawasan transit terpadu atau transit oriented development (TOD) di kawasan Dukuh Atas, dekat Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat.

Kawasan tersebut akan menggabungkan berbagai moda transportasi seperti MRT, Light Rail Transit (LRT), kereta commuter line, Transjakarta, kereta bandara hingga angkutan umum lainnya.

William menjelaskan pihaknya telah menyiapkan beberapa langkah strategi, seperti menyediakan koneksi transit yang aman dan nyaman. Diantaranya pula akan dilaksanakan pengembangan ruang terbuka hijau di atas stasiun MRT.

“Seluruh masyarakat di Jakarta akan merasa aman dan nyaman, semua terintegrasi dengan public transport. Itulah ciri dari sebuah kota modern,” ucap Wiliiam beberapa waktu lalu di Wisma Nusantara, Jakarta Pusat.

Dia menjelaskan pembangunan kawasan khusus pejalan kaki sangatlah penting untuk pergerakan transit masyarakat. Sehingga dibutuhkan sebuah interaksi manusia, pembangunan dan ruang publik.

“Jadi kalau saya turun dari MRT Jakarta, saya mau transit ke kereta, saya mau transit ke Transjakarta, saya nyaman jalan kaki. Ini yang sedang kita dorong,” jelasnya

Menurut William, tampilan trotoar saat ini, khususnya di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin sudah sangat nyaman. Dia yakin, hanya tinggal menunggu setahun kawasan trotoar tersebut sudah rimbun dengan pohon.

Kemudian, PT MRT Jakarta juga menyediakan taman dan tempat nongkrong di sekitar stasiun sebagai ruang terbuka bagi masyarakat.

“Kalau kita bisa mempertahankan trotoar yang bersih dan terjaga, ini jadi sistem transportasi publik yang mendorong transportasi publik yang nyaman di ibu kota,” kata William.

Tak hanya soal kenyamanan, William berpendapat, trotoar yang tertata dapat meningkatkan nilai ekonomi sebuah kawasan. “Jika orang berjalan kaki di kawasan itu nyaman, nilai kawasan itu akan meningkat, ini yang namanya pembangunan berorientasi transit,” lanjutnya.

Awalnya, trotoar di Jalan Sudirman-Thamrin berukuran 3-5 meter. Namun, usai direvitalisasi pada akhir tahun 2017, trotoar tersebut berukuran 8-12 meter. Sehingga tampak lebar dan nyaman untuk pejalan kaki.

Perubahan tersebut dimanfaatkan beberapa warga di Ibu Kota untuk mulai berjalan kaki. Lenny Tambun warga Bendungan Hilir, Jakarta Pusat mengatakan mulai terbiasa berjalan kaki ke lokasi kerjanya di Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Dia menyebut jarak kedua lokasi tersebut kurang lebih 5 kilometer.

“Meskipun panas, enggak ada pohonnya, tapi secara keseluruhan trotoar sudah nyaman untuk jalan kaki, kayak di Jalan Thamrin. Trotoar nya lebar jadi asik aja buat jalan,” kata Lenny kepada Liputan6.com di Jakarta, Minggu (14/10/2018).

Dia mengaku masih sering menggunakan transportasi umum ketika bepergian. Namun, dia mengeluhkan belum adanya integrasi antarmoda yang baik di Jakarta.

Meskipun sudah membiasakan berjalan kaki, pada akhirnya Lenny memilih menggunakan transportasi beraplikasi ketimbang menunggu transportasi umum yang kepastian waktu dan ketetapannya seringkali meleset.

“Bagi pejalan kaki trotoar nggak cuma sekedar nyaman, tapi juga harus bisa mempermudah pejalan kaki untuk mengakses transportasi umum,” jelasnya.

*Upaya Membangun Budaya Transportasi

Penyediaan trotoar yang lebar dan nyaman bagi pejalan kaki tidaklah cukup mendorong masyarakat untuk naik transportasi publik. Ada beberapa yang harus diperhatikan oleh MRT Jakarta.

Menurut Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, kecepatan, keamanan, kemudahan, murah dan ketepatan menjadi pertaruhan dari MRT. Cepat yang dimaksud yaitu waktu yang dijadikan ukuran ataupun patokan masyarakat sampai ke tempat tujuan.

Sedangkan untuk kemudahan, adanya integrasi dengan moda transportasi umum lainnya ataupun dengan berbagai kawasan perkantoran sekitar stasiun MRT.

“Jadi maksud saya kekuatan struktur yang membangun kultur itu bagaimana MRT memberikan jaminan bahwa orang yakin dengan naik MRT, dia menjadi lebih aman, murah, cepat dan mudah,” ucap Yayat saat dihubungi Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Selanjutnya kata Yayat, hal yang perlu diperhatikan juga mengenai penentuan tarif MRT. Sebab bila dirasa cukup mahal, itu menjadi alasan masyarakat untuk tetap bertahan menggunakan kendaraan pribadi. “Dari tarifnya, apakah menarik tidak, buat orang berpindah ke MRT,” katanya.

Bila nantinya terpenuhi, Yayat memprediksikan adanya beberapa perubahan sosial bagi warga Ibu Kota. Seperti budaya untuk berjalan hingga budaya tertib tepat waktu.

 

 

 

Sumber : Merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *