Puasa Sangat Disarankan Buat Terapi Penyakit Berat Ini

JAKARTA – Para dokter sepakat, puasa merupakan salah satu terapi untuk membersihkan tubuh dari lemak-lemak berpenyakit maupun dari makanan yang tidak bermanfaat di dalam tubuh. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa bisa menyehatkan bukan membuat orang sakit.”

Selain wajib, menjalankan puasa pada bulan Ramadan juga bisa memberikan banyak manfaat kesehatan bagi tubuh. Saat orang sedang berpuasa, terjadilah proses pengeluaran zat-zat beracun di dalam tubuh (detoksifikasi) secara total dan menyeluruh.

Dikutip dari buku Misteri Bulan Ramadhan tulisan Yusuf Burhanudin, menerangkan bahwa bagi sebagian peneliti puasa dapat membantu mengendalikan stres. Selain itu, bisa jadi terapi terhadap beberapa penyakit tertentu. Seperti hipertensi, kanker kardiovaskular, ginjal dan depresi. Bakal lebih cepat dan efektif lagi jika diikuti dengan berpuasa.

Tubuh selain membutuhkan konsumsi makanan, juga perlu dibersihkan dari berbagai zat kimia yang akan merusak anggota tubuh itu sendiri baik dengan mengurangi makan maupun dengan menambah dosis makan.

Di dalam dunia kesehatan, puasa bukanlah merupakan terapi baru. Puasa juga ternyata dijadikan terapi oleh orang-orang terdahulu di dalam hidupnya. Bedanya, puasa pada zaman dulu dilakukan bukan untuk menunaikan kewajiban agama melainkan hanya sekedar terapi.

Dokter muslim pada abad XI Ibnu Siena pun selalu mewajibkan pasien yang datang kepadanya untuk berpuasa selama tiga minggu. Bagi Ibnu Siena puasa merupakan terapi efektif dan murah meriah di dalam menyembuhkan para pasiennya.

Seorang dokter spesialis penyakit sphilis asal Amerika, Roberto Partolo menyepakati bahwa tradisi mengosongkan perut merupakan terapi mujarab dalam memberantas virus-virus sphilis yang terkandung di dalam tubuh. Dengan virus-virus tersebut akan tergantikan dengan zat-zat menyehatkan.

Hampir tak satupun kewajiban ibadah yang luput dari hikmah maupun manfaat lahiriah. Para ulama mengatakan, “Tidak semata-mata Allah memerintahkan sesuatu kecuali hal itu bermanfaat baginya. Sebaliknya, tidak semata-mata melarang sesuatu jika hal itu akan berakibat buruk bagi dirinya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *