Menhub Minta Aparat Sita Balon Udara yang Tak Berizin

JAKARTA – Usai terjadinya insiden penerbangan balon udara, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta kepada Kapolda Jawa Tengah, Kapolda Yogyakarta, dan Kapolda Jawa Timur untuk menyita balon udara tersebut.

Menurut Budi, menerbangkan balon udara tanpa izin sangat membahayakan dan merugikan banyak orang, terlebih jika terjadi kecelakaan penerbangan pesawat yang dapat menimbulkan banyak korban jiwa.”

Bisa dibayangkan kalau itu terjadi suatu tabrakan, akan fatal sekali. Oleh karenanya kami berkoordinasi dengan Kapolda Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur untuk menerapkan Law Enforcement dengan menyita balon udara,” ujarnya saat Konferensi Pers di Posko Mudik Kementerian Perhubungan, Jakarta, Minggu (17/6/2018).

Budi juga menjelaskan, menerbangkan balon udara secara tidak resmi dapat dikenakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 dengan hukuman pidana selama 2 tahun atau denda sebanyak Rp 500 juta.

Namun, Budi menyebutkan tetap menyita balon udara tersebut sebagai peringatan awal.

Apabila hal tersebut masih berlanjut, pihaknya siap untuk memberlakukan pasal-pasal pidana tersebut.

“Apabila dilanjutkan dalam suatu pelaksanaan yang tidak bertanggung jawab, kami siap menjalani apa yang tercatat di dalam undang-undang dan memberlakukan pasal pidana,” ujarnya.

Karena menerbangkan balon udara tersebut merupakan tradisi, Kementerian Perhubungan akan melakukan cara-cara persuasif kepada masyarakat dengan mengadakan beberapa lomba di Pekalongan dan Wonosobo.

“Lomba tersebut bertujuan untuk merawat kearifan lokal. Yang kedua agar masyarakat itu tetap terarah, jangan melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Untuk lomba, balon yang terbang akan dibatasi ketinggiannya di 150 meter,” ujarnya.

Sejak dua hari lalu Budi mengaku mendapat 84 laporan dari Pilot Pesawat mengenai balon udara tersebut dengan lokasi paling banyak terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

 

Sumber : Tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *