Mendes: Kalau Tidak Ada Program Padat Karya Tunai, Tingkat Pengangguran Bisa Naik Lebih Tinggi

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo mengklaim program padat karya tunai (cash for work) berhasil mencegah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di desa jatuh lebih dalam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran di desa pada Agustus 2018 naik dari 4,01 persen pada Agustus 2017 menjadi 4,04 persen.

Eko menjelaskan padat karya tunai yang merupakan bagian dari program dana desa berhasil menciptakan 5 juta lapangan kerja paruh waktu selama jeda antara musim panen dan musim tanam komoditas pertanian. Atas dasar itu, ia mengelak tidak efektifnya dana desa menjadi penyebab kenaikan tingkat kemiskinan. 

“Tentu kalau tidak ada cash for work, tingkat pengangguran ini bisa naik lebih tinggi,” papar Eko di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (7/11).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi dana desa hingga September 2018 baru mencapai Rp37,9 triliun. Realisasi ini malah lebih kecil 4,3 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp39,6 triliun

“Bahkan kalau mau dilihat lebih jauh, hitungan kami memperlihatkan bahwa dana desa sebetulnya memperbaiki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita di desa. Pada tahun ini, PDB per kapita di desa mencapai Rp804 ribu, atau jauh lebih tinggi dibanding empat tahun lalu yakni Rp574 ribu,” papar dia.

Adapun menurut dia, naiknya tingkat pengangguran di desa Agustus kemarin disebabkan karena dua hal. Pertama, bulan Agustus adalah pertengahan tahun, di mana masa tanam dan panen pertanian belum dimulai. Sehingga, banyak warga desa yang harus menganggur akibat hal tersebut.

Faktor kedua, lanjut Eko, adalah harga komoditas perkebunan. Sebagai contoh, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengatakan rata-rata harga sawit dunia sepanjang Agustus 2018 hanya US$577,5 per metrik ton dan bergerak di kisaran US$542,5 hingga US$577,5 per metrik ton. Rata-rata harga tersebut merupakan yang terendah sejak Januari 2016. 

Kondisi ini menyebabkan perusahaan kelapa sawit yang bermitra dengan pekebun plasma harus memutus kerja samanya terlebih dulu. Akibatnya, banyak pekerja informal yang terpaksa tak melanjutkan lagi pekerjaannya.

Namun secara tren, ia yakin tingkat pengangguran di desa akan kembali membaik pada Februari nanti. “Karena masa itu kan masa panen, pasti penyerapan tenaga kerja juga banyak,” ujarnya.

BPS mencatat TPT per Agustus kemarin di angka 5,34 persen atau membaik dari posisi yang sama tahun lalu 5,5 persen. Penurunan ini terjadi di tengah kenaikan angkatan kerja dari 128,06 juta orang menjadi 131,01 juta orang per Agustus kemarin. Artinya, penyerapan tenaga kerja memang berbanding lurus dengan pertambahan jumlah tenaga kerja.

Hanya saja, tingkat pengangguran di desa Agustus kemarin ada di angka 4,04 persen atau naik dari posisi yang sama tahun lalu 4,01 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran di kota turun dari 6,79 persen menjadi 6,45 persen. 

 

 

 

Sumber: CNNIndonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *