Aksi Teror Keluarga ‘Pengantin’ demi Masuk Surga Bersama

JAKARTA – Aksi terduga teroris mengajak istri dan anak-anakanya jihad menjadi modus baru dalam serangkaian serangan teror di Indonesia. Mereka satu keluarga menjadi ‘pengantin’ seperti kejadian bom bunuh diri yang terjadi tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5) lalu.

Mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abbas menjelaskan pelibatan istri dan anak-anak bukan sebagai pengalih agar tidak dicurigai aparat maupun warga di sekitar lokasi target pengeboman. Nasir menilai istri dan anak-anak diajak oleh pelaku teror untuk berjihad karena pengaruh yang ditanamkan sejak lama.

Biasanya, kata Nasir, seorang ayah sebagai kepala keluarga akan menanamkan rasa kebersamaan dan pola pikir jihad di dalam keluarganya. Sehingga ketika akan melakukan jihad, yang menurut mereka imbalannya adalah surga, maka sang ayah akan mengajak serta istri dan anak-anaknya.

“Mereka (pelaku) sekarang ini mikirnya ‘daripada aku masuk surga sendiri, mending membawa satu keluarga untuk masuk surga’. Caranya bagaimana? Ya makanya diikutsertakan,” kata Nasir di Jakarta, Senin (14/5).

Ajakan sang ayah itu tidak akan ditolak oleh istri dan anak-anaknya. Sebab, selain pemahaman jihad, sang ayah juga akan menimbulkan rasa kekhawatiran kepada istri dan anak-anak yang tentu akan mempengaruhi secara psikologi. Istri dan anak-anak akan dibuat merasa khawatir menjalani hidup di dunia jika sang ayah nantinya meninggal karena jihad. 

“Mereka takut nanti kalau suaminya mati ya sudah ya kan hidupnya bakal susah,” kata Nasir.

Menurut Nasir, metode ini sudah lama diterapkan oleh kelompok teroris di Suriah. Namun di Indonesia merupakan hal yang baru.

Dahulu, lanjut Nasir, para teroris di Indonesia lebih memilih meninggalkan surat wasiat yang ditujukan kepada istri atau keluarga sebelum melakukan aksi. Ini seperti yang dilakukan oleh gembong teroris Nurdin M Top beberapa tahun silam.

“Jadi, bedanya dulu itu istri tidak tahu. Tapi sekarang istri dikasih tahu. Ketika istri tahu, maka istrinya jadi berpikir, ‘kalau kamu pergi aku gimana?’ Kalau sudah (takut) begitu dia akan ikut (beraksi),” kata Nasir.

Sebelumnya, serangan bom terjadi secara beruntun di Jawa Timur. Pertama, serangan bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Kota Surabaya, Minggu (13/5). Bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga ini dilakukan di depan Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan GPPS Sawahan di Jalan Arjuno.

Ledakan bom juga terjadi di salah satu tempat tinggal terduga teroris di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Diduga kuat ledakan itu tidak sengaja terjadi saat pelaku sedang merakit bom. Saat penggeledahan, polisi menemukan sisa bom aktif dan bahan-bahan pembuat bom.

Ledakan bom bunuh diri kembali terjadi Senin (14/5) pagi di Markas Polrestabes Surabaya. 

 

Sumber : CNNIndonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *